Minggu, 25 Desember 2011

cerpen



“Aku tak bisa menikahimu Nit!” Ucap laki-laki itu tenang.
“Karena dia?” tanya Ninit.
Laki-laki bernama Fabian itu hanya menggeleng.
“Tapi aku sudah berjan….”
“Semoga kita bisa bahagia dengan pilihan kita masing-masing, Maaf!” Jawab Fabian tak memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menjawab lengkap sekadar menjelaskan duduk persoalan.
**
Seminggu yang Lalu …
“Mama nggak setuju kamu menikah dengan Ninit. Gak jelas asal usulnya. Bibit bobot dan bebetnya. Bagaimana mungkin kamu menikahi gadis yang gak jelas keluarganya?” Wanita paruh baya itu berceramah. Mengeluarkan taring dan tanduknya. Tangan kanannya memegang kipas sedangkan tangan kirinya memegang lengan kursi.
“Kamu masih ada keturunan darah biru!! Mama tak mau kalau darah birumu tercampur dengan darah wanita yang gak jelas itu!!”
“Ninit Ma namanya,” koreksi Fabian. Kata ‘wanita itu’ memang terdengar kurang enak didengar.
“Tak usah macam-macam!! Dari kecil kau adalah anak yang penurut!! Mama tak mau kau jadi pembangkang hanya karena seorang wanita!! Sudahlah, tak usah macam-macam, Mama sudah mempunyai calon yang tepat buatmu!!” wanita paruh baya itu terus saja mencecar habis-habisan laki-laki muda yang ada dihadapannya. Seperti jaksa penuntut umum dengan terdakwa dan bukan seperti ibu dan anak.
“Sekali tak setuju tetap tak setuju!!! Silahkan mau pilih siapa??”
Wanita paruh baya itu sudah memberikan ultimatumnya. Fabian, laki-laki dewasa yang seharusnya bisa memilih jalan hidupnya sendiri atau setidaknya berusaha meyakinkan hingga titik darah penghabisan akan cintanya kepada wanita pilihannya kepada ‘ibu suri’ hanya diam tak berkutik mendengar ultimatum dari sang Mama yang bertubi-tubi itu.
LAKI-LAKI LEMAH!!! Umpatnya dalam hati menyalahkan diri sendiri.
**
Empat Tahun yang Lalu
“Nit, berjanjilah padaku untuk menjaga diri ya!!” kata Fabian dengan tatapan penuh cinta pada wanita pujaan hati.
“Tenang Bian, aku akan setia padamu, berjuang ya sayang di sana!!”
Mereka berdua adalah sepasang merpati yang sedang dilanda cinta. Dua anak manusia yang dipertemukan ketika mereka bersekolah di SMA yang sama. Satu kelas. Satu rasa. Satu cinta. Dari kelas satu hingga kelas tiga. Namun, kisah cinta mereka hanya merekalah yang tahu.
“Biar gak heboh, namanya juga anak SMA, hobby bergosip!! Kita jaga rahasia ini ya sayang!!” kata Fabian waktu itu.
Maka selama tiga tahun menjalin kasih di SMA, tak ada seorangpun yang tahu akan kisah cinta “diam-diam” mereka. Fabian dengan kegiatannya. Pun Ninit dengan kegiatannya pula. Mereka berdua sama-sama bintang kelas. Hingga perpisahan itu terjadi. Fabian memilih kuliah di Universitas Indonesia sedangkan Ninit memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Brawijaya.
“Aku nggak kuat nge kos nya Bi! Mahal!! Aku di sini saja!!” begitulah ucap Ninit ketika Fabian bertanya mengapa dia tak memilih untuk melanjutkan pendidikannya di ibu kota.
Dua merpati itu kemudian berjanji. Seperti kisah cinta pada umumnya, mereka berjanji untuk setia dan saling menjaga hati, hingga ikatan suci itu datang menghampiri. Indah… sangat indah…
**
Setahun yang Lalu
“Apaa?? Jadi Ninit yang selama ini Mama bangga-banggakan sebagai calon menantu Mama itu ternyata anaknya seorang supir angkot?” Wanita paruh baya itu terdengar shock ketika anaknya mengatakan hal yang sebenarnya.
“Kenapa Ma memangnya?” Dengan lugunya laki-laki bernama Fabian itu bertanya.
“Putuskan sekarang juga!!!” wanita itu serasa menghadapi musibah besar dalam hidupnya ketika tahu bahwa Ninit, mahasiswa cerdas dan cumlaude itu adalah anaknya seorang supir angkot.
Fabian menyesali keterusterangannya. Namun sudut hati kecilnya masih menyisakan pengharapan, mungkin seiring dengan berjalannya waktu, hati sang Mama bisa ditakhlukkan. Semoga. Dan ternyata kenyataan memang tak seindah angan-angan.
**
Tujuh Tahun Kemudian
Wanita muda berusia 30-an yang masih terlihat cantik itu memberikan sambutannya. Jutaan pasang mata menyambutnya. Wanita muda tersebut terpilih menjadi inspiring woman. Dosen, mahasiswa S3, penulis, peneliti, pebisnis online, & pemilik yayasan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Wanita dengan segudang prestasi.
Jauh di sana, di tempat yang berbeda, dalam waktu yang sama, seorang wanita paruh baya terdengar sedang memberikan ultimatum, entah untuk yang keberapa kalinya, kepada anak lelakinya yang sudah berumah tangga,
“Seharusnya Sherin seperti Ninit!! Aktif!! Toh dia lulusan luar negeri!! Masak iya cuma jadi ibu rumah tangga? Shopping menghabiskan uang suami!! Istri macam apa itu??”
Laki-laki bernama Fabian itu menangis dalam hati. Seandainya dulu aku bisa lebih tegas & memperjuangkanmu Nit!!
Karena penyesalan tinggallah penyesalan. Tak ada gunanya diratapi. Meratapi hanya akan menambah luka di hati.
**
Hikmah:
  1. Jangan pernah merendahkan seseorang hanya karena latar belakangnya
  2. Sebagai laki-laki: tegaslah dalam bersikap & jangan pernah menyakiti perasaan wanita karena hal tersebut bisa menjadi bumerang bagimu
  3. Buat wanita: tak ada ikatan resmi selain pernikahan, itu sebabnya jangan terlalu mencintai seseorang, kita tak akan pernah tahu apakah orang yang akan kita cintai tersebut akan menjadi pasangan hidup kita atau tidak
  4. Dalam mencari pasangan tak hanya cukup bermodal cantik, pendidikan tinggi, dan materi semata. Ada hal yang lebih penting daripada itu, yaitu “kepribadian”
  5. Kerja keras dan kerja cerdas akan membuahkan hasil yang optima

Tidak ada komentar:

Posting Komentar