Sabtu, 22 Oktober 2011

Lima Sahabat

Pagi yang cerah membuat Cella, Cika, Deya, Raya dan Indah semangat untuk pergi sekolah, mereka sekolah di SMA N2 BINA NUSA INDAH dan duduk di kelas X.A, mereka telah menjadi sahabat sejak SD,mereka memiliki sifat yang berbeda, Cella memiliki sifat pendiam, Cika memiliki sifat cengeng, Deya memiliki sifat penakut, Raya memiliki sifat pemalu,sementara Indah memiliki sifat pemarah dan bijaksana,meski sifat mereka berbeda tapi mereka tetap kompak dalam berbagai hal. Dalam urusan asmara hanya Deya dan Indah yang belum mempunyai pacar, Deya tidak diperbolehkan oleh mamahnya untuk pacaran sementara Indah belum berminat untuk Punya pacar, ketika jam istirahat Deya dan indah pergi ketaman sekolah sambil membawa sebotol minuman, mereka berbincang-bincang sambil menikmati minuman mereka, di ujung pembicaraan mereka Deya berkata pada Indah, “In kamu mau tau gak.” Sambil mengangkat botol minumannya Indah menjawab perkataan Deya, “emm….., apa Ya?”
Deya lansunng menjawab pertanyaan Indah, “ In sebenernya aku pengen banget ngerasain yang namanya pacaran sama seperti Cella, Cika, dan Raya. Gimana yah kalau aku juga pacaran sama seperti mereka?”
Tanpa basa-basi Indah langsung menjawab perkataan Deya,”bukannya kamu gak dibolehi mamah kamu pacaran Ya?”
”iya, emang bener sich In. tapi aku penge...n banget In.” jawab Deya
Indah langsung membalas kata-kata Deya “ya sudah kalau seandainya kamu memilih keputusan seperti itu, jangan bawa-bawa nama kami.”
“ya deh, aku gak bakal pacaran sebelum aku di izini mamah ku.” Kata indah.
“nah lau gitu aq setuju banget, itulah Deya yang aku kenal” Indah langsunng memuji Deya.
Saat Indah melihat jamnya, ia lansung bicara pada Deya“ bentar lagi bel masuk bunyi Ya,ke kelas yok.”
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk beranjak meninggalkan taman sekolah dan pergi menuju kedalam kelas. Beberapa menit setelah berada didalam kelas bel masuk berbunyi. Semua murid yang berada di luar kelas bergegas menuju ke dalam kelas, mereka kembali belajar seperti biasa, tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 14.00 WIB waktunya jam belajar di sekolah berahir.Bel pulang pun berbunyi, sebagai tanda bahwa jam sekolah telah usai.
Saat mendekati gerbang Cella berkata pada kelima sahabatnya, “teman-teman besokkan libur, gimana kalau kita belajar kelompok? Jam 10.00 WIB aku tunggu dirumahku yah.”
Semua menjawab, ”sepp” menyatakan bahwa mereka setuju.
Keesokan harinya dirumah Cella, Cella, Cika dan Raya menonton acara TV kesukaan mereka sambil menunggu kedatangan Indah dan Deya. Tidak berapa lama kemudian
Kring........ kring……kring…….kring……….kring……..kring……..kring….”.
suara telpon rumah Cella berbunyi.
“Cell telponnya bunyi tuh!” suara Cika terdengar sayu saat memberitau bahwa ada telpon.
“emm……., kamu aja deh yang ankat, aku mau ambil minuman sama cemilan dulu di dapur.” Cella langsunng berdiri dari sopa dan menujju kedapur.
“hemm, mau mu Cell.” Grutu Cika pada Celli.
“udah angkat aja.” Raya mencoba menjadi penengah namun sepertinya semua itu sia-sia, Cika lansung merasa bahwa Raya membela Celli, ”ahh… kamu Ray, ya sudah.”
“ye… ngambek..ngambek….. dasar si tukang ngambek” Raya menyindir Cika.
“iya emang bener, aq emang tukang ngambek. Puas …” dengan nada keras Cika menjawab sindiran Raya.
“ hahahaha.., maaf-maaf, aku tuh cuman becanda Cik, jangan di ambil hati.” Raya mencoba menenangkankan Cika.
“ iya…iya…iya…, stop diem” Cika lansung mengangkat telpon.
“ hallo, assalamu’alaikkum Cika mengawali percakapannya di telpon.
“eh, kalian yang buat anak saya jadi berubah seperti sekarang, iyakan. Ayo ngaku.”suara ibu-ibu terdengar keras dari dalam telpon.
“ loh tunggu dulu, ini siapa?” Cika menjadi heran
“ ini mamahnya Deya,kalian yang ngajarin Deya supaya Deya jadi ngelawan saya.”Tanya mamahnya deya
“loh tante, maksud tante apa? Saya gak ngerti sama sekali” Cika mulai meneteskan air matanya.
Raya menjadi heran, “kenapa Cika nangis? ” tanyanya dalam hati.
“kalian kan yang ngajarin Deya buat pacaran,” mamah Deya terus membentak-bentak Cika
“hix…. hix…. hix… aq gak tau tante, maksud tante itu apa? Kami gak pernah ngajarin Deya buat ngelawan tante!” Cika terus menangis.
Raya tidak bisa duduk diam melihat Cika terus menangis, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Cika dan merngambil telpon dari tangan Cika.
“hallo, nie siapa? Maaf bila saya lancang, kenapa anda terus membentak-bentak Cika, memang apa salah Cika?” Tanya Raya dengan nada kesal. Celli keluar dari dapur ia langsung menhampiri sahabat-sahabatnya.
“ini bukan hanya untuk Cika tapi untuk kalian semua.!” Mamah Deya berkata seolah-olah mengancam mereka. Semua terhenti saat Deya membuka pintu sambil menangis dan ia langsung terbaring di atas lantai. Raya langsung menutup telponnya dan merekapun dengan cepat menngahampuiri Deya yang telah terbaring tak berdayaA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar